Cerpen Romantis - Prasangka Jaka


Baru saja kutempatkan jagang sepeda motor, aku sudah merasa kedatanganku adalah hal yang salah. Bukan karena tidak ada orang di rumah, tapi karena telalu banyak orang yang berseliweran hingga membuatku canggung.
Sebelum ke sini, aku sudah meminta informasi pada kakek. Beliau bilang tidak ada yang istimewa di hari ini. Akan tetapi, ucapan kakek benar-benar tidak terbukti. Aku merasa kecewa dan perlu berputar balik.
“Permisi, Pak. Bisa saya bertemu dengan Pak Angon?”
“Pak Angon?” tanya si penjawab balik.
“Iya, Bapak Angon, ketua dari Komunitas Kandung Selamanya,” jelasku penuh sopan. Sang bapak di hadapanku belum berucap, hingga seorang yang mengusung tirai hitam melewati kami dan menyahut.
“Tidak perlu basa-basi pada bapak ini, Mas. Dia sendiri yang bernama Angon.” Aku terbengong sebentar. Kemudian menahan senyum sekaligus sebal. Sementara Pak Angon tertawa dan menepuk bahu rekannya secara asal.
“Iya, Mas. Saya sendiri Pak Angon. Ada yang bisa dibantu? Eh, tapi kita masuk dulu. Masa ngobrol sambil berdiri seperti ini.”
Sang tuan rumah menyilakan. Aku pun dengan antusias mengikuti. Tinggal beberapa tahap lagi dataku akan terkumpul. Aku bisa kembali ke Surabaya dan menyelesaikan penelitianku.
“Nah, sampai di mana tadi?”
“Begini, Pak. Saya datang ke mari untuk meminta bantuan. Saat ini saya sedang mengerjakan skripsi tentang struktur legenda dan nilai sosial budaya dari Legenda Jaka Kandung yang ada di Desa Tanen ini. Saya dengar Bapak merupakan tokoh ahli yang bisa ditanyai perihal tersebut.”
“Jadi, Mas mau wawancara?”
“Iya, Pak. Sekalian saya ingin mendokumentasikan petilasan dari legenda tersebut.”
Hem …. Saya tahu maksud kedatangan Mas ke mari. Tapi, sangat disayangkan. Saya tidak bisa membantu hari ini, karena ada Festival Kandung di jantung desa mulai hari ini hingga dua hari ke depan. Saya harus di lokasi untuk mengawasi jalannya acara sekaligus menemani pejabat daerah yang singgah. Ini saja saya pulang ke rumah untuk mengambil beberapa tirai stan. Seandainya tidak, kemungkinan kita juga tidak bertemu.”
Aku termenung. Tidak mungkin aku menginap beberapa hari lagi di Tulungagung. Aku harus menangani banyak hal dan mengejar tanggal wisuda yang terus mengancam. Aku sudah mendapat separuh data dari Kakek dan petugas administrasi. Aku tidak bisa menunda-nunda rencana yang sudah kususun.
“Ngomong-ngomong, siapa namamu, Mas?”
“O iya, maaf, Pak. Saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Reza. Saya tinggal dan kuliah di Surabaya. Karena saya merasa Legenda Jaka Kandung masih minim penelitian resmi, saya ingin melakukannya dan memperkaya arsip kebudayaan nusantara.”
“Wah, bagus itu. bisa juga diteruskan dalam bentuk buku. Bulan lalu, saya mampir ke perpustakaan nasional dan hanya menemukan dua cerita dari Tulungagung. Legenda Kiai Upas dan Telaga Buret. Lainnya nihil. Padahal Tulungagung ini begitu kaya akan sejarah dan budaya. Sayang sekali tidak ada yang minat untuk menuliskannya. Tapi, untuk hari ini saya benar-benar tidak bisa membantu, Mas. Kalau minggu depan gimana?”
“Bagaimana ya, Pak. Saya tidak memiliki banyak waktu untuk menginap di Tulungagung.” Sebelum aku memohon pada Pak Argon lebih banyak, seorang gadis menghampiri kami. Gadis itu memakai kaos biru lengan panjang bertuliskan ‘Kula Tresna Indonesia’ di bagian depan. Meskipun sedikit tertutup kerudung, aku masih bisa melihat jelas gores tulisan itu.
“Pak, sudah ditunggu Pak Bejan. Katanya suruh cepat,” ucap gadis itu seraya mencium punggung tangan bapaknya.
“Kamu baru pulang, Nduk? Sudah selesai persiapannya?”
“Sudah, Pak. Balik lagi ke sana malam. Buat bantu ibu-ibu sekalian nonton pentas.”
“Nah, kebetulan kalau gitu. Kamu mau bantu Mas ini? Dia mau ambil data penelitian. Kamu cerita saja tentang legenda di desa kita dan antar dia ke tempat-tempat petilasan. Gimana?”
Sejenak aku memandang raut wajah gadis itu. Ada sedikit ruam protes di sana. Namun, gadis itu mengangguk dan tersenyum pada sang bapak.
“Ya sudah, Mas. Kamu ambil data sama anak saya saja ya? Insyaallah informasinya akurat. Dia itu sebelas dua belas dengan saya.”
“Baik, Pak. Terima kasih atas bantuannya.”
Pak Angon bangkit dari sofa dan menebah kaosnya beberapa kali. Baru setelah itu dia melangkah pergi dan meninggalkanku berdua dengan putrinya.
“Mas, saya cuci muka sebentar ya.”
“Iya. Saya tunggu di teras saja, Mbak.” Gadis itu mengangguk dan bergegas masuk ke rumah lebih jauh. Meskipun aku hanya mendapatkan data dari anak Pak Angon, aku tidak mempermasalahkan itu. Aku sudah bertekad untuk menyelesaikan data legenda dan dokumentasi hari ini, bagaimanapun caranya.

**

Lokasi Alam Kandung tidak begitu jauh dari rumah Pak Angon. Hanya saja jalan yang menanjak membuat motorku terdengar mengerang. Aku sendiri tidak terkejut, karena motorku bukanlah motor besar yang bisa membuat suara mulus dan memikat. Untungnya, gadis yang kugandeng tidak menyiratkan raut wajah sebal. Dia malah mengamati pemandangan sekitar seakan dia juga tak pernah mampir ke tempat ini. Semakin kupandang, dia mengingatkanku pada seseorang. Sebenarnya ada sebuah rasa penasaran yang mengungkungku pada gadis di belakang. Namun, aku tidak yakin untuk menanyakannya sekarang.



“Parkir sana saja, Mas,” ucap gadis itu tiba-tiba.
“Masuk tempat wisata?”
“Iya. Saya akan mengurus jalan masuk. Setelah dari sini kita bisa langsung ke Sumber.”
Si gadis turun dari motor lebih awal. Dia berbincang sejenak pada penjaga pintu dan kembali lagi padaku. Dia terlihat sangat ramah pada orang-orang. Tidak ada canggung. Mungkin itu adalah karakter bawaan dari ayahnya. Auranya dapat merisak perasaan resah dan tegang.
“Mas, ayo!”
“Iya.” Aku dan si gadis masuk ke tempat wisata Alam Kandung. Tempat tersebut tidak begitu ramai, tetapi masih terlihat beberapa mobil dan motor yang terparkir rapi.
“Rara! Enggak mampir dulu? Ada pisang goreng sama ubi kesukaanmu,” teriak seorang nenek dari kejauhan.
“Nanti saja, Mbok. Saya antar teman dulu ke air terjun,” teriak si gadis dan sang penawar mengangguk.
Di sebuah jalan setapak, aku mengingat kembali kenangan lima belas tahun lalu. Terakhir aku datang ke sini, tempat ini begitu rimbun, tanpa penghuni.
“Nah, untuk mempersingkat waktu, Mas ambil gambar saja di air terjun. Nanti akan saya jelaskan lebih detail tentang legenda dan tempat ini sambil makan gorengan di warung itu. Lumayan kan, bisa sambil istirahat.”
“Sebenarnya saya sudah cukup mengenal tempat ini, Mbak. Dulu, kakek saya tinggal di desa ini. Saya berniat mengambil data demi penambahan dan formalitas saja. Ngomong-ngomong, kita belum kenalan, Mbak. Namanya siapa?”
“O iya, saya Rara. Mas. Saya masih kuliah semester dua. Jadi panggil nama saja. Kalau Mas?”
“Saya Reza. Sekarang sedang berjuang untuk lulus,” jawabku sekenanya dan Rara tertawa.
“Kakek Mas Reza asli sini? Namanya siapa? Siapa tahu saya pernah dengar.”
“Nama kakek saya ….” Belum lengkap aku berucap. Salah satu penjaga parkir mendekat dan meminta Rara untuk berbincang sejenak. Tidak ingin menguping, aku melangkah untuk memberi jarak sekaligus mengambil gambar di tempat lain.
Kameraku telah siaga sedari pagi. Kupersiapkan untuk mendapatkan gambar terbaik dari tempat ini. Aku mengambil banyak sudut terutama di air terjun utama. Selebihnya, aku ambil pemandangan aliran landai dan semak-semak. Aku berharap banyak pada gantangan dan Sumber yang terletak di bukit bagian atas. Semoga saja bunga tabebuia sedang mekar dan aku bisa mendapatkan gambar yang kuinginkan. Bukan hanya sebagai dokumentasi penelitian, tapi juga untuk memupuk kenangan yang telah layu dan kusam.
“Maaf, Mas. Tadi ada keperluan sebentar sama Kang Wisnu. Sepertinya setelah ini saya harus kembali ke Festival Kandung. Istrinya lagi hamil. Kasihan kalau harus bantu-bantu di stan.”
“Iya, lebih baik secepatnya kita selesaikan.”
Mendapat kode keras, aku meminta Rara untuk langsung mengantar ke Sumber. Meski sedikit kecewa karena tidak mendapat pisang goreng, gadis manis itu tetap bersemangat memanduku. Dia tidak berhenti menjelaskan tentang ini dan itu. Untung saja alat perekamku telah menyala dan bisa kusesuaikan dengan kebutuhanku nantinya.
“Alam Kandung ini terkenal dengan adanya seorang tokoh yang bernama Jaka Kandung, Mas. Sebenarnya ini bukan nama asli, tetapi karena beliau tinggal Alam Kandung, maka beliau disebut seperti itu. Beliau adalah anak Adipati Arya Blitar pertama yang membabat wilayah Blitar atas perintah Kerajaan Majapahit. Adipati itu bernama Nilosuwarno. Sementara ibu dari Jaka Kandung bernama Rayung Wulan. Ada juga seorang patih bernama Patih Sengguruh. Nah, asal usul mengapa Jaka Kandung tinggal di sini, karena ada perselisihan antara adipati dan patih hingga menewaskan sang adipati. Saat sang ibu dikurung oleh patih. Jaka Kandung murka dan membunuh Sengguruh. Setelah itu, saat posisi adipati telah kosong, Jaka Kandung tidak ingin menjabat seperti mendiang ayahnya. Padahal Jaka Kandung adalah keturunan bangsawan. Dia lebih memilih menjadi petani dan tinggal di sini bersama rakyat jelata.”
“Legenda Jaka Kandung ini istimewa ya, Ra. Dia adalah legenda wilayah Blitar pada zamannya. Tapi, sekarang dia masuk wilayah tetangga dan menjadi harta dari Tulungagung.”
“Benar, Mas. tapi, bagaimanapun juga Jaka Kandung tetap bangsawan Blitar lo. Perkututnya saja sering bersenandung di alun-alun kota Blitar pas hari-hari tertentu.”
“Tapi itu masih sebuah misteri kan?”
“Jangankan perkututnya, Mas. Jaka Kandung sendiri adalah sebuah misteri. Dia kan enggak mati. Tapi moksa.”
“Orang zaman dahulu memang aneh, Ra. Terlalu banyak misteri dan jauh dari mati. Jangan-jangan, Jaka Kandung saat ini sedang membuntuti kita.”
“Ih, Mas Reza jangan bikin parno. Emang Mas mau sekalian wawancara Jaka Kandung?”
Bincang ini terasa halus. Ringan dan tidak membikin tersedak. Tanpa kusadari, pohon besar yang menaungi Sumber telah terlihat. Aku pun mengarahkan motor di sisi pohon dan mengucap salam dalam hati. berbeda denganku, Rara lebih khusyuk dalam menunduk.
“Nah, sudah sampai. Monggo kalau mau foto-foto.”
Sudah kuduga, aku mendapatkan momen yang bagus. Air begitu jernih dan menggenang di dalam Sumber. Tidak begitu meluap, tapi terlihat begitu menyegarkan. Bunga tabebuia turut menghiasi. Belum mekar sempurna, tetapi sudah membuat suasana rimbun dan merona. Di antara semua yang ada, hanya pohon ini yang utuh sejak lima belas tahun lalu.
“Kamu sering ke sini, Ra?”
“Enggak juga, Mas. Cuma saat kegiatan bersih Sumber. Anggota komunitas akan membersihkan tempat ini sebulan sekali.”
“Aku agak lupa, tapi tempat petilasan burung perkutut di sebelah mana ya?”
“O itu, Mas. sekarang tinggal tiang seukuran 30 cm. Warga merobohkannya sepuluh tahun lalu karena masyarakat luar kota ke mari untuk mencari pesugihan. Ngomong-ngomong, bagaimana Mas tahu tentang petilasan itu? Padahal sudah hilang sejak lama.”
“Ah, saat kecil saya sering main ke sini sama teman. Ya petak umpet atau sekadar cari jagung dan ubi buat dibakar. Dulu masih ada tiang yang tinggi. Sekarang tinggal segini ya?”
Aku memutar badan untuk mengambil gambar bekas tiang. Andai kupandang wajah gadis manis di belakangku, tentu aku akan mendapatkan jawaban atas gundahku hari ini. Namun, aku yang payah tidak mendapatkan jawaban apapun dan malah asyik memotret ke sana ke mari. Pada akhirnya, aku mendapati diriku memotret Rara yang sedang menikmati angin dan beberapa kelopak tabebuia.
Suasana macam apa ini? Aku merasa seperti seorang pemeran utama di dorama Jepang. Mengamati seorang perempuan dan berharap dia adalah seseorang yang istimewa di masa silam.
“Mas, sudah selesai?” tanya Rara seraya menyulam senyum. Syukurlah, dia tidak keberatan dengan tindakanku yang mengabadikan dirinya di tengah-tengah bunga.
“Iya. Sudah.”  Ucapanku terkesan canggung. Sementara senyumnya semakin menjadi dan dia mendekat. “Kalau gitu kita pulang sekarang.”
“Iya. Terima kasih untuk informasi dan waktunya, Ra. Kamu mau saya antar ke lokasi Festival Kandung?”
“Tidak perlu, Mas. antar saya ke rumah saja. Saya perlu mandi dan beberes sebentar.”
“Ya sudah kalau begitu. Kalau boleh tahu, di Festival Kandung ada apa saja, Ra?” tanyaku seraya men-start-er motor.
”Banyak hal menarik, Mas. Bergantung minat. Ada stan makanan, hobi, dan merchandise khas Kandung berupa gantungan kunci, pin, kaos, dan wayang. Kalau saya pribadi lebih suka melihat pentas drama Jaka Kandung. Pentas itu dipersiapkan tiga bulan sebelum festival dan para pemain dipilih dari siswa SMA sederajat se-Rejotangan.”
“Lakon berganti tiap malamnya?”
“Iya, Mas. Dua tahun lalu, saya juga ikut berperan. Jadi Rayung Wulan, ibu Jaka Kandung.”
Sesaat pikiranku terhenti pada ucapan terakhir Rara. Aku sangat ingin menanggapi sekaligus menanyakan suatu hal. Namun, suaraku tenggelam. Aku tidak bisa membuka mulut hingga gadis itu tiba di rumah.
Rara turun dari motor dan melambaikan tangan sejenak. Aku tidak berniat pergi secepat itu. Tapi, lambaian tangan sang gadis membuatku undur diri. Aku membelokkan motor dan menyusuri jalan perbatasan yang dipenuhi padi di sisi kanan dan kiri. Aku ragu. Aku tidak bisa kembali ke Surabaya dengan keadaan begini.

**

Sebelum pulang ke Surabaya, aku ingin memindahkan tangkapan kamera ke dalam laptop. Meskipun aku sadar, niatku yang sebenarnya adalah untuk melihat hasil jepretanku pada anak gadis Pak Angon. Dia sangat mirip dengan Rayung, kekasih masa kecilku. Aku tidak tahu mengapa Rara selisih beberapa tahun denganku. Jika dia adalah Rayung, seharusnya kami sepantaran.
Lima belas tahun lalu, aku berpisah dengan Rayung saat bermain di Sumber. Saat petak umpet, dia kutinggal sendiri karena ayah bilang kondisi kakek memburuk dan harus segera dirujuk ke rumah sakit. Setelah itu, aku langsung tinggal di Surabaya bersama orang tuaku. Sementara rumah dan tanah kakek di desa Tanen dijual. Kakek turut tinggal di Surabaya dengan tempat kontrol yang lebih dekat. Sejak saat itu, aku tidak pernah menginjakkan kaki di bumi Tulungagung.
Hatiku gaduh. Aku butuh kejelasan. Aku harus melihat apakah Rara adalah Rayung atau bukan. Aku akan menemuinya dan beralasan untuk meminta bantuan dokumentasi di festival. Di sela-sela itu, aku harus mengetahui apa yang tidak kuketahui.

**

 “Lo, Mas ini yang di rumah Angon, kan?”
Seorang bapak mengambil alih motorku. Dia memasukkan kendaraan tersebut  ke barisan yang telah tersedia. Untuk menanggapi pertanyaannya, aku mengangguk sebentar dan merogoh sakuku untuk menemukan uang dua ribu.
“Mau foto-foto ya, Mas? Buat penelitian?”
“Ah, iya, Pak. Buat dokumentasi nanti.”
“Pas sekali kalau gitu. Sekarang ada pentas Jaka Kandung di panggung utama. Rara sepertinya juga ke di sana.”
“Rara?” tanyaku seperti orang bodoh.
“Iya, gadis yang memandu Mas tadi siang. Saya lihat dia berdiri di depan panggung sambil makan gulali. Anak itu tidak pernah berubah. Sudah dewasa, sudah banyak jajanan modern juga, tapi tetap saja yang dicari gulali buatan Mbok Sukemi.”
Aku terhenyak. Segera kuserahkan uang dua ribu dan aku berlari menuju panggung utama. Cukup sulit melewati jalan yang dipenuhi oleh manusia-manusia. Aku sempat menabrak bahu seorang bapak dan beliau memelototiku. Aku meminta maaf sejenak dan terus berjalan cepat.
“Beraninya dia menculik ibunda selama ini! Dia sudah membunuh ayahanda dan sekarang dia ingin membuat ibundaku sebagai burung dalam sangkar. Sungguh kurang ajar!”
“Aku tidak memberi tahumu karena kekuatanmu belum seberapa, Jaka. Tapi, saat ini kurestui kamu untuk menolong ibundamu. Jangan gegabah dan tetap terapkan ilmu dariku.”
Dialog Jaka Kandung yang murka membumbung di udara. Di sisi lain, Mbah Sentono Gedhong mencoba meredam selaku guru dari tokoh utama. 
Di bawah panggung yang megah, terlihat seorang gadis dengan sorot mata berbinar. Kali ini dia memakai kebaya model kutu baru dengan kerudung biru yang dikepang. Sepertinya dia mendapat tuntutan itu dari stannya. Lepas itu, aku tidak peduli bagaimana penampilannya. Dia adalah Rayungku. Kekasih masa kecilku.
“Rayung!” aku berbisik tepat di sisinya. Dia berjingkat dan menjauh beberapa langkah. Aku tertawa. Setelah itu aku memandangnya lekat-lekat hingga dia menggumamkan sesuatu yang begitu halus sampai aku tak mendengarnya.
“Aku Jaka. Reza Jaka Susena. Ingat?” Gadis di hadapanku bungkam. Cukup lama hingga aku ragu apakah dia akan mengingatku. Tak berapa lama, gadis itu memalingkan wajah. Kemudian dia menunjuk sebuah arah.
“Jika Mas Reza mencari Mbak Rayung, dia ada di sana.” Rara ganti menoleh padaku seraya tersenyum. Sementara aku bergeming pada seorang perempuan yang sedang mengelus-elus perut. Dia memakai gaun merah muda dengan kerudung bunga-bunga. Di sampingnya, seorang lelaki sedang menautkan genggaman tangan. Aku masih ingat, lelaki itu adalah salah satu petugas parkir di Wisata Alam Kandung siang tadi.
“Maaf, saya bukan orang yang Mas cari. Saya Rara Dwi Lestari, sepupu Mbak Rayung.”
Aku menunduk dengan perasaan bancuh. Aku sangat ingin tertawa karena kebodohan yang hakiki. Tapi gadis di hadapanku begitu sumringah hingga aku sangat malu untuk menampakkan diri.
“Meskipun begitu. Senang bertemu denganmu, Mas Jaka. O iya Mas mau gulali?” tanyanya seraya menyerahkan sebuah gulali rasa blueberry. Masih dengan senyum, dia menunggu reaksiku.
Aku belum bisa meraih pemberiannya. Aku sangat terkejut hingga tampak seperti orang yang tidak memiliki otak. Di sini, aku menemukan kekasih masa kecilku telah bersama orang lain. Juga, aku menemukan seorang gadis asing yang mungkin akan mengisi hari-hariku. Jika dia ingin.
SELESAI


*Dilarang menyalin tanpa izin. Hargai kerja keras penulis melalui suka, komentar, dan saran. Terima kasih

Nur Asiyah
Nur Asiyah Penulis yang berkecimpung di dunia fiksi dan memulai langkahnya pada non-fiksi di pena-biru.com

8 komentar untuk "Cerpen Romantis - Prasangka Jaka"

  1. Turut menyesal saya dengan Jaka. Bisa dipertemukan kembali tapi yang ditemui sudah punya yang lain. Mungkin sudah saatnya mas Jaka move on ke Rara saja hehehe

    BalasHapus
  2. Jujur saya ngga terlalu suka dengan cerita romantis yang ending nya bikin nyesek, bisa kepikiran sampe berhari-hari hiks :(

    BalasHapus
  3. Melihat judul cerpen ini saya sangat suka dengan cerpen romantis, walapun saya nggak romantis.

    BalasHapus
  4. Mmmmm... cinta masa kecil cinta monyet tapi susah dilupakan. Jadi ingat masa lalu hikks

    BalasHapus
  5. Mmmmm... cinta masa kecil cinta monyet tapi susah dilupakan. Jadi ingat masa lalu hikks

    BalasHapus
  6. Cinta yang tak berkunjung ke Jenjang pelaminan, ketemunya dipelaminan tapi sebagai tamu, hehehe

    BalasHapus
  7. Ini short story ya kak?
    Apakah ada episode lanjutan kak? Keren banget kak kayak berasa baca novel deh kak.. 😊

    >>iotomagz<<

    BalasHapus
  8. Menariik kak cerpennya. Masih ada lanjutannya kah?

    BalasHapus

Posting Komentar